Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memegang produk baru yang diluncurkan Bulog “Sago Mee” pada acara Pekan Sagu Nusantara (PSN) 2020 di Jakarta, Selasa.

HKTI.OR.ID JAKARTA – Perum Bulog meluncurkan produk barunya berupa mie sagu yang diberi nama “Sago Mee Bulog” pada Pekan Sagu Nusantara yang digelar di Kemenko Perekonomian, Selasa, sebagai upaya mempromosikan dan memfasilitasi pemasaran produk serta hasil olahan sagu rakyat.

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menjelaskan Indonesia memiliki potensi sagu yang sangat besar sekitar 85 persen dari luas sagu dunia yang tersebar di Sumatera, Maluku, Sulawesi, Papua termasuk Papua Barat dan dengan tingkat produktivitas yang sangat tinggi.

Untuk itu, Perum Bulog memposisikan diri sebagai promotor dan fasilitator produk serta hasil olahan sagu untuk mendukung program diversifikasi pangan demi terwujudnya ketahanan pangan.

“Kami yakin sagu dapat menjadi alternatif pangan yang menjanjikan dan dapat menjadi kunci ketahanan pangan ke depannya. Banyak keunggulan dari pangan sagu dan produk turunan nya yang dapat menjadi faktor penguat agar pangan sagu dapat diminati oleh masyarakat Indonesia,” kata Budi Waseso atau akrab disapa Buwas dalam acara Pekan Sagu Nusantara (PSN) 2020 bertajuk “Sagu Pangan Sehat untuk Indonesia Maju”, Selasa.

Konsep “Smart Village” pun rencananya akan dikembangkan dengan melibatkan berbagai pihak seperti pemerintah, swasta, perguruan tinggi dan UMKM. Dengan membangun komunitas sejahtera dan mandiri berbasis pabrik sagu.

Dengan kekuatan pada jaringan hilir yang dikuasai Bulog melalui jaringan penjualan penugasan PSO dan jaringan komersial akan mempermudah BUMN Pangan tersebut dalam melakukan penyebaran produk Mie Sagu (Sago Mee) ke seluruh Indonesia.

“Kami akan pasarkan melalui metode penjualan daring lewat ipanganandotcom dan melalui jaringan Rumah Pangan Kita,” kata Buwas.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan potensi Indonesia yang kaya akan produksi sagu harus dimanfaatkan sebagai upaya pemerintah untuk menyukseskan program diversifikasi pangan. Selama ini, Indonesia dinilai masih bergantung terhadap beras dan dapat memicu permasalahan ketahanan pangan nasional

“Produksi lahan sagu Indonesia adalah yang terbesar di dunia dan sangat melimpah di tanah Papua sehingga membutuhkan suatu gagasan untuk menciptakan alternatif pangan di luar beras. Maka kami melalui kerj asama dengan berbagai pihak telah memulai pengembangan sagu,” kata Menperin Agus.

Dalam rangka komitmen penguatan pangan sagu pada acara Pekan Sagu Nasional ini, juga dilakukan penandatanganan MoU antara Bulog dengan BPPT mengenai komitmen pengembangan dan penerapan teknologi untuk pengelolaan pangan lokal.

Selain itu juka dilakukan penandatanganan MoU antara Bulog dengan PT Bangka Asindo Agri mengenai pengembangan pangan mandiri berbasis singkong dan sagu.

Nota kesepahaman itu ditandatangani oleh Direktur Utama Perum Bulog, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Wakil Direktur Utama Perum Bulog dan Direktur Utama PT Bangka Asiando Agri yang disaksikan langsung oleh Menteri Perindustrian. (ant/mc)

 

LEAVE A REPLY